Muslim friendly Korean Ramyeon

Akhir pekan ini akhirnya berhasil mengumpulkan motivasi untuk beranjak dari selimut dan melancong sampe Suwon (kota tetangga), yang kebetulan di sana, Indana dan keluarga sedang mengadakan syukuran sekaligus farewell party.

Alhamdulillah bisa makan masakan indo dan sekaligus silaturrahim.

Ndak mau rugi mumpung sudah kelur rumah akhirnya lanjut mampir ke emart, dan menemukan ramyeon yg insyaAllah boleh dimakan ๐Ÿ˜€

Ternyataa tinggal di negara produsen ramyeon justru lebih susah cari ramyeon yg halal >.<,

Berikut ramyeon yang bisa ditemukan dinsupermarket/online shopping korea yg insyaAllah aman dimakan.

1. ๊พผ๋Œ€๊ฐ„์งฌ๋ฝ• (kundaegan jjampong)

Dari ingredients yang tercantum tidak ada ekstrak daging, kecuali flakes rasa sapi. Waktu memasak dan cek tekstur remahanny memang seperti daging sapi kering, jadi lebih amannya untuk tidak memasukkan flakes ini. Saus, bumbu, kaldu berbasis seafood.

2. ์–‘ํŒŒ ๋ผ๋ฉด (yangpa ramyeon)

Ramyeon ini dibeli waktu ad world ramyeon fair. Keren bgt ya ramyeon aja sampai ada eksibisinya ๐Ÿ˜†. Imonim yang menjual ramyeon ini kekeuh bilang kali ini memang vegie friendly. Dan akhirnya waktu baca bahannya memang semua berbasis sayuran, bawang bombay.

3. ์•ผ์ฒด๋ผ๋ฉด (yachae ramyeon)

Wah inii banyak perdebatan ramen ini aman dimakan atau tidak karena sering sekali perusahaan mengganti bahan. Jadii sebelum beli wajib baca komposisinya terlebih dahulu dan memastikan tidak ada (์œก์ˆ˜ :yuksu) atau (๋ผ์ง€๊ณ ๊ธฐ: dwaejigogi) yang berarti pork, di dalamnya.

Source : nongshim (http://blog.nongshim.com/m/1135)

List mungkin akan diupdate(kalo menemukan lagi :D)

Di indonesia sepertinya juga banyak perdebatan untuk shin ramyeon, samyang bulldak, dan ramyeon rasa lainnya. Yang jelas dari produsen memastikan bahwa tanpa logo halal KMF(Korea Muslim Federation) ramyeon di atas memang tidak ad kandungan babi tapi tidak dijamin kehalalannya.

Semoga bermanfaat ^^

Advertisements

Resep ayam Korea ala Kyeochon

Setelah ikutan cooking class yg diadakan mbak2 rumaisa, dan beberapa kali nyoba, sabtu ini akhirnya nyoba lagii daan kebanyakan masukin garam di saus, waktu buka catatan ternyata memang seharusnya ndak pake garam >.<, alhamdulillah masih bisa dinikmati ๐Ÿ˜†

Dari catatan yg dishare mba meity dan Bu Riema berikut bahan dan cara memasak dalgganjeong chicken (๋‹ญ๊ฐ„์ • ์น˜ํ‚จ)

Bahan:

  • 1 ekor ayam, potong kecil2 sekitar 15-20 potong
  • 2/3 cup tepung kentang( bisa diganti tepung maizena, tpi untuk hasil maksimal sebaiknya pakai tepung kentang
  • 1 putih telur
  • Wijen untuk taburan (opsional)
  • Minyak untuk menggoreng

Bahan perendam

  • 3 sdm bombay halus
  • 1/2 sdt garam
  • merica

Bahan saus:

  • 4 sdm saus tomat
  • 4 sdm gula
  • 1 sdm jahe parut
  • 1 sdm cuka (opsional)
  • 1 sdm bawah putih tumbuk
  • 1 sdm corn syrup
  • 1 sdm minyak cabe
  • 1/2 sdm saus tiram
  • 3 sdm air

Cara membuat

1. Ayam dimarinate dengan bahan perendam, simpan di kulkas selama 15-30 min

2. Balur ayam dengan putih telur kemudian taruh di atas tepung, sedikit remas2 agar tepung menempel (bisa diulang jika ingin tepung lebih tebal)

3. Deep fry ayam, tiriskan

4. Di tempat terpisah campur bahan saus kecuali bawang putih

5. Tumis bawang putih hingga harum, masukkan campuran bahan saus, tambah air, tumis hingga agak mengental

6. Matikan api, masukkan ayam, aduk cepat, taburkan wijen, hidangkan selagi hangat

Selamat mencoba ^^

2 years being a programmer(again)

As October passed, it also means that it’s been 2 years I am working as programmer (and counting).

What so interesting about it? I was not fan of programming and logic thingy subject during my undergraduate school, and even during my graduate school I found it’s very difficult to understand line of code especially from someone’s expert. But the situation gave me no choices except learn and do the coding.

It was quite hard in the beginning of course, especially after not being involved directly with coding for more than two years.

I’ve been involved in the project that required me to work at client office, with all Korean partners. We are creating the hybrid app running on android, iphone, and also available in mobile and pc-web. The biggest challenge in the beginning was language barrier, sometime it’s killing me, seriously. But after 4 months passed I got used to it. I kept saying to myself, it’s okay to not understand all what they said, it’s okay to be excluded, it’s okay to be minority, it’s okay to be underestimated, and it’s okay to be treated differently, because I am different, and I am grateful being different. What’s important is they can count on me, and I know what I have to do and what I can do. I think that’s keeping me sane. Haha.

Now, surprisingly I feel enjoy making a class, spending all day watching lines of code, resolving a bug, and loving the sensation when my code worked well, it makes me feel like a magician ๐Ÿ˜€

Sometimes when I face some easy peasy style of code but I can’t understand before I googled it and found the answer in stackoverflow, I feel a little regret, I should have took programming subject seriously back then, what I’ve done?

Until my last day come, I promise myself to not losing my desire and passion, stay creative and persistent, because if I can’t solve the problem using one method, I can always try and error :D.

Sorry for my babbling, I think my day will come soon :D. Thanks to my Indonesian and Korean mates who always willing to help me.

Have a nice week, don’t forget to make something awesome.

Kehidupan lab

Beberapa minggu berlalu, akhirnya kehidupan lab dimulai. Meskipun belum pada tahap deadline freakout & sleepless night.

Sebagai kuli lab, mungkin berikut juga dirasakan oleh temanteman dengan skema beasiswa di bidang serupa, engineering dan kawankawannya.

From 9 to 9

Jam wajib di lab dimulai jam 9 pagi ~ 9 malam, senin-junat, ditambah sabtu 9-5 sore. Ini hanya di atas kertas, realitanya bisa lebih dari ini apalagi jika deadline di depan mata, entah project progress report atau paper submission. Mau tidak mau sebagian besar waktu termasuk makan, sholat, akhirnya berpindah dari rumah ke lab ๐Ÿ˜†

Lab project is #1

Sebagai anak prof (living cost & tuition fee disupport lab), ketentuan wajib di lab saya adalah menempatkan projek lab di ranking teratas. Ujian dan tugas kuliah adalah our private business. Jadi tidak ada alasan sibuk karena sedang ngerjain tugas atu belajar ujian di lab ketika dikejar deadline project.

Freaky Friday or Dead Monday

2 hari ini adalah alasan kesibukan selama seminggu penuh. Jadwal presentasi progress dan ide riset dijadwalkan pada dua hari ini tergantung availability prof, dan email dari pj jadwal. Yang bisa dipastikan terjadi di dua hari ini adalah jadi saksi atau pelaku live drama student and prof. Yang bisa dilakukan to make it a blessed friday or good monday adalah mempersiapkan semua materi untuk presentasi, dan jangan pernah mengulang kesalahan yang sama, daan yang pasti banyak berdoa.

Kok sepertinya ga ada bahagia bahagianya ya kehidupan lab?

Eits jangan salah, karena terbatasnya waktu dan keadaan akhirnya kebiasaan yang baik baik juga dimulai,

Mbekal tiap hari

Karena terbatasnya waktu dan uang, beli makan di luar tidak bisa dilakukan setiap hari, demo bertahan sampai tanggal gajian lab bulan selanjutnya, mbontot jadi hal wajib. Dengan begitu juga skill memasak jadi lebih terasah, yang biasanya di rumah hanya bantuin ibuk, kadang rebus mie instant atau sekedar goreng nugget, sekarang resep dengan bahan aneh2 sampai resep makanan korea pun dicoba, *meskipun kadang setengah gagal. ๐Ÿ˜†

3km/day walk

Sebelum berpindah ke lab di gedung bawah, dari dorm ke lab harus berjalan menaiki bukit sekitar 15menit sekali jalan, sebenernya ada bis setiap 5-10 menit sekali, tarifnya 500,- krw = 1 ice cone lot****a. Jadi ketika ingin berhemat dan sehat minimal 3km ditempuh dr dorm ke lab pp. sekaligus leg building juga kan, hehehe

Sunday trip/gathering

Minggu jadi hari wajib bersenang-senang, entah jalanjalan ke tempat wisata terdekat, main ke masjid di dusil, atau sekedar memasak dan berkumpul bareng menikmati masakan indo. By doing this, we feel less stress, be like family, sekaligus sedikit mengobati kangen rumah ๐Ÿ˜Š

Sampai di sini dulu,

Bersambung…..

Perpanjang paspor di KBRI Seoul

Ceritanya paspor saya akan habis tanggal 5 oktober ini, dan baru sadar sekitar dua minggu lalu >.<

Teman-teman yang ingin perpanjang paspor, kalau bisa dari jauh hari dalam rentang waktu 6 bulan, agar ada waktu lebih longgar untuk mengurus dokumen yang disyaratkan.

Berdasar pengalaman saya, di awal sedikit ada drama karena kontrak berformat umum, dan tidak sesuai dengan yang diminta. Alhamdulillah akhirnya beres juga.

Untuk pengurusan paspor ini, tahapnya sebagai berikut :

1. Sign up/ login di website ekbriseoul.kr

2. Menuju ke menu perpanjangan paspor > upload dokumen yang disyaratkan.

3. Cek email, dan periksa status aplikasi.

4. Apabila feedback berupa revisi, silakan upload dokumen yang harus diperbarui, dan tunggu email balasan dari sistem.

5. Cek status aplikasi di website (ekbriseoul.kr) dan email, apabila telah terverifikasi (status:’verified’), melalui aplikasi ekbriseoul, daftar reservasi kunjungan melalui aplikasi.

6. Sesuai jadwal, datang ke kantor dengan membawa paspor asli, dan copy dokumen (untuk jaga-jaga jika dibutuhkan)

7. Petugas akan memberi kwitansi untuk pembayaran, sesuai dengan jenis aplikasi paspor

8. Melakukan pembayaran di bank KEB Hana, dan kembali ke loket untuk menyerahkan bukti pembayaran.

9. Menunggu antre foto.

10. Foto, kemudian menunggu paspor dicetak(sekitar 10 menit)

11. Selesai, paspor baru bisa dibawa pulang di hari yang sama.

Tips :

– apabila anda berstatus bekerja, pastikan kontrak kerja berformat legal dengan disertai kop perusahaan, jika tidak, kontak staff kbri yang memanage rekan-rekan wni pemegang visa tertentu.

– siapkan uang cash senilai kurs dolar yang ditarifkan.

– ambil antrean pagi.

– berdoa dan minta restu orang tua, agar prosesnya lancar.

Referensi :

https://ekbriseoul.kr

App : M-KBRI Seoul

Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu.

Semoga informasi ini bermanfaat ๐Ÿ™‚

Busan, Seminggu pertama

21 Februari 2013, 17:47 KST

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Busan, di terminal bus Nopo tepatnya.

Rumah Jangjeon, adalah tempat tinggal pertama saya di Busan. Tanpa diduga ternyata mbak Dini yang tak sengaja bertemu di malaysia adalah roommate mbak Nelly (kakak Mbak Restia senior saya di SI, dan yang saya kontak untuk menanyakan akomodasi di Busan). Beneran dunia memang selebar daun kelor.

Tinggal sekitar dua minggu bersama these awesome sisters (sebelum saya masuk asrama), I learned and being taught a lot about dos and don’ts to survive living as a student in korea.

Sehari setelah sampai di korea, besok adalah jadwal bertemu prof untuk pertama kalinya, yang dilanjutkan dengan menyapa dan berkenalan dengan rekan satu lab (krn kita akan bersana selama kurang lebih tahun ke depan), yang semua namanya tak ada satupun yang bisa saya ingat saat itu. Semua terdiri dari tiga suku kata, dengan wajah yang hampir serupa -.-

Kesan hari pertama di lab, berasa di antah berantah, meski di lab masih ad banyak senior(4 orang masmas), I feel I am in the middle of nowhere, setengah tersesat, kikuk, awkward, karena saat itu suasana lab begitu hectic. Setelah hari berlalu, akhirnya sempat juga ngobrol bareng mas2, dan ternyata memang seminggu ini semuanya sedang super sibuk. Temanteman korea mempersiapkan proposal project baru, mas Te dan mas Yo ad presentasi progress thesis, mas Putu dan mas Thoma mengerjakan tugas dari senior Phd.

Di kemudian hari dan selama seminggu saya membiasakan dan menyibukkan diri dengan membaca apapun, sambil mengikuti arahan dari rekan lab untuk mempersiapkan segala dokumen dan keperluan untuk memulai semester baru.

As a recap, dalam seminggu pertama ini :

  • Membiasakan diri dengan suhu dibawah 10 derajat,
  • Adjust jadwal, mulai dari sholat, bangun tidur, makan, dan lainnya
  • Nonton drama korea live (dari obrolan orang sekitar yang berasa seperti drama)
  • Setiap hari berjalan kaki sekitar 20 menit, dan naik gunung (labnya ada di puncak bukit)
  • Belajar hangeul (huruf korea), mulai dari 0, ใ…Žใ„ดใ„ทใ„นใ…
  • Mengamati dan belajar kebiasaan orang Korea.

Tak sabar menunggu semester dimulai, setidaknya agar ada aktivitas untuk kabur dari suasana awkward di lab karena saya satusatunya yang tidak sibuk >.<.

Minggu pertama, exciting yet boring and and awkward. Alhamdulillah berlalu dengan baik.

Bersambung…..

Korea, the beginning

Sudah hampir 5 tahun ternyata saya ngekost di negara orang,

Lalu, gimana rasanya? Banyak juga yang tanya, betah ya tus tinggal di sana? Enak ya setiap hari berasa liburan.

Well the answer will be YES if you are coming here as a tourist, but as a student, I can say it’s way far from it, but I cant say no ๐Ÿ˜€

Chapter ini dimulai ketika saya memutuskan mengambil kesempatan yang ditawarkan prof Hong dan PNU untuk meneruskan studi.

Kesempatanitu..

Saya berhutang nyawa ke Ibu Mahendra, dosen terbaik dan tersayang kami. Berkat beliau (dan atas kehendak Tuhan) saya dipercaya prof untuk belajar di Ubiquitous DB Lab(nama lab kala itu, sekarang berubah menjadi Big Data Lab (mungkin untuk mengikuti perkembangan riset).

Resign, visa, pindahan….

Satu bulan sebelum keberangkatan, saya mengajukan cuti ke manager personalia, dan sounding ke Bapak & Ibu VP di departemen saya. Yang berakhir nanonano (yang satu nyeramahin sambil marahmarah, yang lain justru ngasih wejangan dan support).

Continue reading